Di Balik Kabut Sali-Sali: Merawat Mimpi Anak Pelosok Lewat BINTANG 2026
PINRANG — Berada di ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, Desa Sali-Sali di Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, menyuguhkan hamparan alam pegunungan yang memanjakan mata. Namun, di balik sejuknya kabut dan indahnya topografi wilayah tersebut, tersimpan realita pendidikan dan kesehatan yang menuntut perhatian bersama.
Berdasarkan hasil survei lapangan yang dilakukan oleh Lembaga Sahabat KITA baru-baru ini, keindahan alam Sali-Sali berbanding terbalik dengan fasilitas penunjang pendidikan anak-anak di sana. Di UPTD SD Negeri 304 Pinrang, misalnya, puluhan siswa harus berbagi satu-satunya toilet sekolah yang masih berfungsi kelayakan. Di sudut lain, sebuah ruangan luas yang disiapkan untuk menjadi perpustakaan masih menanti rak-raknya terisi oleh buku bacaan.
Di bidang kesehatan, akses yang menantang dan medan berbatu membuat warga desa—yang 99 persennya bermata pencaharian sebagai petani—sangat bergantung pada Puskesmas Pembantu (Pustu) sederhana berbahan dasar kayu untuk penanganan medis pertama.
Merespons kondisi tersebut, bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Lembaga Sahabat KITA kembali menggelar program tahunan berskala besar bertajuk BINTANG (Berbagi Ceria di Hari Pendidikan untuk Masa Depan Gemilang). Tahun ini, BINTANG memasuki edisinya yang ke-10 dengan mengusung tema "BINTANG 2026: Goes to Sali-Sali", yang akan diselenggarakan pada 30 April hingga 3 Mei 2026 mendatang.
"Pendidikan di pelosok bukan hanya soal kelengkapan gedung, tetapi soal menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan dan menjaga nyala mimpi anak-anak kita. Melalui BINTANG 2026, kami ingin hadir bukan sekadar memberi bantuan, melainkan menjadi jembatan kolaborasi kemanusiaan," ujar perwakilan Sahabat KITA.
Berbeda dengan kegiatan amal pada umumnya, BINTANG 2026 dirancang sebagai "kemah sosial-edukatif". Nantinya, para relawan yang terpilih akan tinggal langsung di rumah-rumah warga (homestay). Metode ini dinilai sangat efektif dan edukatif karena mampu menumbuhkan ikatan emosional dan semangat gotong royong, sejalan dengan karakteristik masyarakat Sali-Sali yang toleran—termasuk kehadiran "Kampung Pancasila" di Dusun Silu yang menjadi simbol kerukunan desa tersebut.
Program ini menyasar 123 siswa dari jenjang kelas 3 hingga 5 di empat sekolah dasar, yakni SDN Inpres Mariri, SDN 304 Pinrang, SDN 160 Pinrang, dan SDN 156 Pinrang.
Terdapat empat pilar utama yang akan dilaksanakan. Pertama, Camping Ceria, sebuah kemah edukatif yang menghadirkan kelas profesi dari "Kakak Inspirasi", mendongeng, dan bioskop edukasi. Kedua, Pendirian Rumah Ceria, yakni gotong royong menyulap ruang kosong menjadi perpustakaan yang layak dan ramah anak. Ketiga, Peduli Sehat (PeSat), berupa ekspedisi medis keliling kampung yang memberikan layanan cek kesehatan umum, gigi, hingga sunatan massal gratis bagi warga. Serta keempat, Peduli Desa, berupa penyuluhan pertanian dan diskusi warga.
Saat ini, Sahabat KITA tengah membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat umum dan pemuda terdidik untuk mengambil peran. Pendaftaran relawan resmi dibuka dari tanggal 6 hingga 16 April 2026 melalui tautan daring (bit.ly/bintang2026).
Selain tenaga, masyarakat juga dapat berkontribusi melalui donasi paket sekolah senilai Rp150.000 per anak, donasi buku bacaan, obat-obatan, maupun pembelian merchandise amal. Penyaluran donasi dikumpulkan di Rumah Ceria Sahabat KITA di Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo (eks Jl. Andi Pawelloi) Lorong 4, Pinrang, atau melalui rekening Bank BRI 50230101234534 atas nama Sahabat KITA.
Jarak dan medan yang sulit mungkin memisahkan pusat kota dengan Desa Sali-Sali. Namun, melalui kepedulian yang diwujudkan dalam program BINTANG 2026, jarak tersebut dijembatani oleh satu tujuan mulia: memastikan setiap tawa anak-anak di puncak Pinrang menjadi pijakan nyata menuju masa depan yang lebih gemilang. (/Red)*
